Kata
“kurikulum” berasal dari kata bahasa Latin yang berarti “jalur pacu”, dan
secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti itu (ibarat jalan) bagi
kebanyakan orang (Zais, 1976:6). Lebih lanjut Zais (1976) mengemukakan berbagai
pengertian kurikulum yakni kurikulum sebagai program belajar, kurikulum sebagai
isi pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar yang direncanakan, kurikulum
sebagai pengalaman dibawah tanggung jawab sekolah, kurikulum sebagai pengalaman
belajar terbimbing, kurikulum sebagai kehidupan terbimbing, kurikulum sebagi
suatu rencana pembelajaran, kurikulum sebagai sistem produksi secara
teknologis, dan kurikulum sebagai tujuan.
Konsep-konsep
kurikulum yang terdiri dari: (i) kurikulum sebagai jalan meraih ijazah, (ii)
kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran, (iii) kurikulum sebagai rencana
kegiatan pembelajaran, (iv) kurikulum sebagai hasil belajar, dan (v) kurikulum
sebagai pengalaman belajar.
Kurikulum
merupakan wahana belajar-mengajar yang dinamis sehingga perlu dinilai dan
dikembangkan secara terus-menerus dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan
yang ada dalam masyarakat (Depdikbud, 1986:1) Pengembangan kurikulum adalah
suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan berjalan. Bond
dan Wiles (1989:87) mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum yang terbaik
adalah proses yang meliputi banyak hal yakni: (1) kemudahan-kemudahan suatu
analisis tujuan, (2) rancangan suatu program, (3) penerapan serangkaian
pengalaman yang berhubungan dan (4) peralatan dalam evaluasi proses ini. secara
singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan kompleks yang mencakup
berbagai jenis keputusan (Taba, 1962:6)
Pengembangan
kurikuum mengacu pada tiga unsur, yaitu: (1) nilai dasar yang merupakan
falsafah dalam pendidikan manusia seutuhnya; (2) fakta emperik yang
tercermin dari pelaksanaan kurikulum, baik berdasarkan penilaian kurikulum,
studi, maupun survei lainnya; dan (3) landasan teori yang menjadi arahan
pengembangan dan kerangka penyorotnya (Depdikbud, 1986:1)
Para ahli
kurikulum juga menemukan model-model pengembangan kurikulum. Diantara model
pengembangan kurikulum tersebut adalah (i) model admnistratif, (ii) model Grass-Roots,
(iii) model Beuchamp, (iv) model arah-terbalik Taba, dan (v) model Rogers.
Banyak ahli mengemukakan
bahwa pembelajaran merupakan implementasi kurikulum. Pada sisi lain banyak ahli
mengemukakan bahwa pemebelajaran itu sendiri merupakan kurikulum terapan atau
kurikulum dalam kegiatan/aksi. Hal itu berarti bahwa pembelajaran dan kurikulum
merupakan dua konsep yang tak terpisahkan.
Guru sebagai
pembelajar mengetahui konisi, situasi, dan bertanggung jawan atas tercapainya
hasil belajar. Pada sisi lain guru juga bertanggung jawab atas keberlakuan
dalam pembangunan kurikulum. Oleh karena itu, sewajarnya guru berperan optimal
dalam pengembangan kurikulum terwujud dalam kegatan-kegiatan berikut : (i)
perumusan tujuan khusus pengajaran, (ii) perencanaan kegaiatan pembelajaran
yang efektif, (iii) pelaksanaan program pembelajaran dalam pembelajaran sesungguhnya,
(iv) mengevaluasi proses belajar dan hasil belajar siswa, dan (v) mengevaluasi
interaks antara komponen-komponen kurikulum yang diimplementasikan. Kelima
kegiatan tersebut merupakan tuntutan bagi guru yang profesional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar