Cinta
Yang Tak Direstui
Chapter
1
Aku
hanyalah wanita biasa, berasal dari keluarga sederhana yang berlatar pendidikan
pun rendah. Dia “Suamiku yang katakan saja bernama Andi berasal dari keluarga
mampu dan berlatar pendidikan tinggi”. Hingga akhirnya suatu hari aku bertemu
dengan nya di suatu tempat hingga akhirnya kami saling jatuh cinta dan menikah.
Cerita
ini berawal dari pertemuanku dengan andi di akhir tahun 2007 disebuah kota
tempat aku dilahirkan, Saat itu umur ku baru masuk 19 tahun. Dari pertemuan
pertama timbullah rasa diantara kami. Andi adalah seorang sosok laki-laki yang
baik, lembut tutur katanya, perhatian. Andi lebih tua dariku, umurnya 31 tahun
saat itu walau umur kami terpaut jauh tapi aku tetap jatuh hati padanya. Hari
demi hari kami semakin dekat dan memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke
jenjang pernikahan.
Pada
waktu itu Andi datang ke rumahku, memperkenalkan dirinya kepada orang tua ku mengutarakan
niat baiknya ingin kejenjang yang lebih serius yaitu ingin menikahi ku kepada orang
tua ku. Saat itu kami mendapat lampu hijau dari orang tua ku dan andi meminta
izin kepada kedua orang tuaku untuk membawaku bertemu kedua orang tuanya dikampung.
Ayahku melihat ada niat baik dari andi dan mengizinkan ku ikut dengan andi
kekampung halamannya tapi hanya satu hari pulang-pergi tidak menginap disana.
Keesokan
hari nya, pagi-pagi sekali aku di jemput oleh andi ke rumahku dan kami
berangkat menuju kampung halaman nya untuk memperkenalkan ku kepada kedua orang
tua nya. Perjalanan dari kota tempat aku tinggal dengan kampung halaman andi
memakan waktu kira-kira 4 jam. Di tengah perjalanan hati ku berdebar-debar,
perasaanku saat itu bercampur aduk dan gelisah tapi andi selalu menyakinkan aku
dengan kata-kata bijak nya dan berkata orang tua nya pasti akan menerimaku agar
aku tenang.
Setibanya di rumah orang tua andi kami
turun dari mobil dan di depan pintu sudah menunggu kedua orang tua nya. Jantungku
berdegup kencang bercampur takut tapi ku kuatkan hati dan menjabat tangan kedua
orang tua andi. Ibu andi bernama sukesih dan ayah nya bernama irman. Bu sukesih
sosok yang tidak bisa kutebak karna saat pertama bertemu dengan ku raut
wajahnya datar tetapi tetap menyambut kedatangan kami. Sang ayah lebih terlihat
bersahabat saat itu menyambut kedatangan kami dengan senyuman.
Saat
di dalam rumah aku di persilahkan duduk di ruangan tamu dan di suguhkan minum
oleh bu sukesih sedangkan andi duduk
diruangan tengah bersama ayahnya. Bu sukesih mula-mula bertanya kepadaku “siapa
namamu ? dari mana asalmu, dan pekerjaan orang tua mu?” dan akupun menjawab
dengan polos dan jujur, “nama ku Rina mirana bu, ibu bisa memamnggilku dengan
Irin atau rina, aku berasal dari kota pekanbaru, dan pekerjaan orang tua ku
seorang petani bu”. di akhir pembicaraan bu sukesih juga bertanya “kamu tamat
sekolah apa? dan umurmu berapa dan akupun menjawab lagi “Rin hanya tamatan SMA/setara
bu, umur rin baru menginjak 19 tahun, jawabku malu-malu. Seketika tidak ada
yang aneh dari pembicaraan kami karna
komunikasi kami saat itu lancar dan biasa saja layaknya orang yang
pertama kali berkenalan saling bertanya dan bercerita. Kami juga sempat makan
bersama dengan dengan orang tua andi.
Waktu
sudah mulai beranjak sore saat itu, kami memutuskan kembali ke kota Pekanbaru
dan berpamitan dengan kedua orang tua andi, mereka melepas kami pergi dengan
senyuman. Aku berharap mereka bisa menerimaku dengan segala kekuranganku. Di
perjalanan pulang ke rumah ku, hatiku bertanya-tanya “ apakah mereka
menyukaiku? apakah mereka mau menerima kekuranganku? apa yang dibicarakan andi
dengan ayahnya? apakah kami direstui? semua pertanyaan itu berputar-putar
dipikiranku”. Tapi tak ingin kutanyakan semua pertanyaan yang ada dibenak ku
itu kepada andi disaat itu karna aku takut dan tidak siap mendengar jawaban
yang tak ku inginkan, akhirnya ku hanya diam seribu bahasa.
The day was late and did not realize we had reached my
hometown of Pekanbaru. Andi drove me home, because it was night andi took leave of home to my
parents. Arriving at home, I went straight into my room with an
uncertain feeling. That night I can’t sleep, so many questions in my mind. my heart is very restless fear of myself not accepted by Andi
parents because of differences in social status between
me and andi. Oh God help me, remove any nervous anxiety. Please calm my heart God.
💗💗💗
Tidak ada komentar:
Posting Komentar